aku-ngaji

Setelah Aku Mengaji

Sering kumendengar firman Allah,

وَمَا خـَلـَقـْتُ الجـِنَّ وَالإنـْسَ إلا لِيَعْبُدُونِ

Setelah membaca terjemahannya, aku jadi tahu bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah semata. Setelah mengikuti kajian, aku pun paham bahwa ibadah adalah ungkapan yang mencakup seluruh amalan yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang bersifat lahiriah ataupun batiniah. Begitulah pengertian ibadah menurut Ibnu Taimiyah, kata si penceramah kala itu. Setelah mendalami definisi ibadah lebih jauh, aku pun mengerti bahwa agama memiliki tiga dimensi utama, yakni aqidah, ibadah, dan muamalah, atau akhlaq, sebagaimana dibahas oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka.

Tentang aqidah, setelah mengaji, aku jadi tahu bahwa ia bukanlah kepercayaan yang tidak berlandas. Ia dibangun dengan ilmu, sehingga kaum muslimin meyakininya dengan benar, membenarkan yang ditetapkan, dan tidak menerima yang tidak berdalil. Bagi yang bertauhid dengan benar, ada jaminan dari Rasulullah, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun, maka ia masuk surga.” [HR. Muslim].

Setelah mengamati masyarakatku, aku lantas ngeri. Aqidah yang merupakan kunci kebahagiaan dunia dan akirat ternyata tidak bening sebagaimana mestinya. Begitu buram dan ringkih karena digerogoti oleh noda kesyirikan. Qurban yang seharusnya untuk Dia semata, misalnya, ternyata dihidangkan pula untuk benda lain yang dianggap memiliki linuwih atau daya magis, seperti laut, sungai, pohon, batu, makam, jembatan, benda pusaka, dan lain sebagainya. Untuk menolak bala’, alasan mereka. Sujud dan ketundukkan mutlak yang sejatinya hanya untuk Allah, ternyata dipersembahkan pula kepada suatu figur.

Semakin mengenal Kejawen, semakin pula aku merinding. Nasib seseorang, contohnya, bisa diramal melalui penanggalan Jawa, sehingga dikenallah hari baik dan hari sial. Yang demikian dipedomani secara kuat oleh orang yang hendak mengadakan perjalanan, pernikahan, hajatan, maupun pembangunan rumah. Inilah yang dalam istilah agama dinamakan dengan tathayyur, atau mengait-ngaitkan secara tidak logis fenomena alam dengan nasib seseorang. Keadaan semakin runyam tatkala mereka lebih mempercayai mantera-mantera dukun daripada doa-doa dari al-Qur’an maupun Sunnah. Padahal, manhaj aqidah Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu harus disandarkan kepada Allah semata.

Tentang ibadah, setelah mengaji, aku pun tahu bahwa pengkultusan kepada Allah bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi juga konskuensi lain berupa ritual dan amalan. Itulah paket ibadah yang disodorkan Islam untuk mengekspresikan segenap penghambaan kepada Sang Junjungan. Setelah banyak berdiskusi, aku pun tahu bahwa ibadah hanya diterima bila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah. Artinya, hanya mengharap ridho Allah dan dengan cara yang diajarkan Nabi, alias tidak mengandung bid’ah. Sebab, ketika ibadah mengandung bid’ah, sekalipun dianggap baik, maka tidak akan diterima. “Barangsiapa melakukan suatu amalan (ibadah) yang tidak ada perintah dari kami, maka tertolaklah ia,” sabda Rasulullah dalam riwayat Muslim, sebagaimana sering diceramahkan oleh kawan-kawanku.

Syarat di atas, meskipun hanya dua, dalam praktiknya masih jarang didapati bersandingan. Sebaliknya, ritual bid’ah tumbuh subur karena pelestarinya adalah tokoh-tokoh yang dikyaikan. Salah satu contoh adalah yang berhubungan dengan jenazah. Dimulai dengan azan sebelum mengubur mayat, dilanjutkan dengan selamatan kematian sejak hari pertama, ketujuh, keempat puluh, keseribu, atau satu tahunannya. Rangkaian ritual di atas bukan saja tidak syar’i, tetapi juga tidak logis. Bukankah azan untuk menyeru orang agar salat? Lantas, kenapa dikumandangkan di tempat yang justru dilarang untuk salat, bahkan di luar waktunya? Satu lagi, bukankah orang yang mendapatkan musibah harus dibantu? Tetapi, kenapa malah harus menyediakan jamuan bagi jamaah tahlilan? Sungguh, musibah di atas musibah.

Mengenai akhlaq, setelah mengaji, aku jadi tahu bahwa aqidah dan ibadah saja tidak cukup. Ada ladang lain untuk membuktikan aqidah dan ibadah terhadap-Nya. Yang satu ini berdimensi kemakhlukan. Itulah yang disebut muamalah. Seseorang yang mengaku bermanhaj salaf dalam aqidah dan ibadah, tidak lantas menjadikannya salafi yang paripurna sebelum hubungannya dengan sesama makhluk terpoles dengan akhlaq islami. Kata Nabi, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya.” [Muttafaq alaih]. Maka, alangkah celaka orang yang sekian tahun mempelajari akidah dan ibadah, tetapi perilakunya terhadap kedua orangtua, tetangga, saudara, dan temannya sangat menyakitkan. Padahal, aqidah yang lurus dan ibadah yang benar akan mencerminkan akhlaq yang menyejukkan.

Harap diketahui, dalam mempraktikkan muamalah, ada anggota masyarakat yang mengabaikan dan ada pula yang berlebih-lebihan. Wujud mengabaikan di antaranya adalah tidak amanah, gemar menuduh, menipu, kikir, dan sebagainya. Sedangkan bentuk berlebih-lebihan adalah pandangan ekstrim mereka terhadap kerukunan. Atas dasar kerukunan, semua perbedaan ditolerir. Hidup rukun dan damai diartikan saling menyenangkan dan saling membolehkan. Akibatnya, tidak jarang orang terpeleset dalam penafsirannya. Dengan dalih kerukunan dan ketentraman, mereka menjadi serba cuek dan tidak mengenal sekat-sekat lagi. Mereka sangat sungkan untuk sekadar memberikan teguran atau nasihat. Sehingga, semua dikembalikan kepada budaya toleransi yang buta. Mereka lalai bahwa ada perbedaan yang sifatnya mendasar, yang tidak bisa ditawar-tawar, dan ada pula perbedaan yang sifatnya adat kebiasaan yang ada keluasan. Di antara hal-hal mendasar yang dimaksud adalah mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain, mengikuti ritual yang tidak islami, seperti maulidan, tahlilan, riba, ataupun berpacaran dan berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Yang seperti ini wajib dihindari karena memang tidak ada dalil yang meringankan, apalagi mendukung.

Setelah merenung, kusimpulkan bahwa mereka perlu mendapatkan sentuhan dakwah. Lebih lanjut kumelamun, datang pula kesimpulan lain, yakni siapa lagi yang bertanggung jawab meluruskan manhaj mereka kalau bukan aku. Namun, aku pun sadar, bahwa diri ini miskin ilmu dan amalan. Beruntung aku tidak sendirian. Di pondok ini, ada beberapa ustaz yang akan membimbingku. Di tempat ini, aku bisa menemukan buku-buku panduan tentang ibadah yang sesuai sunnah. Di sini pula aku belajar berakhlak mulia, melalui para guru dan sahabat-sahabatku sesama santri.

 

Oleh : Abu Aryahi

 

Artikel : www.ibnutaimiyah.com

Ikuti update artikel di Fans Page Info Terkini Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah
Twitter PYIT_BOGOR, instagram ibnu_taimiyah_bogor,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *