cinta

Menguak lima huruf pada CINTA

Cinta adalah air kehidupan bahkan ia adalah rahasia kehidupan…

Cinta adalah kelezatan ruh bahkan ia adalah ruh kehidupan…

Dengan cinta menjadi terang semua kegelapan…

Dengan cinta akan cerah alam kemanusiaan…

Dengan cinta akan bersemi perasaan…

dan dengan cinta akan jernih segala pikiran…

Karena cinta, semua kesalahan akan dimaafkan…

Karena cinta, semua kelalaian akan diampunkan…

Karena cinta, akan dibesarkan arti kebaikan.

Tidakkah anda melihat rusa betina mendekatkan diri kepada pejantannya?!

Tidakkah tanah yang tandus merindukan curahan hujan?!

Tidakkah anda melihat alam gembira menyambut kedatangan musim semi?!

Itu semua atas nama cinta…….Ya, atas nama cinta!

Sekiranya lautan mempunyai pantai dan sekiranya sungai mempunyai muara,

dan sekiranya jalan punya tapal batasnya,maka lautan cinta tidak berpantai dan sungai cinta tidak bermuara serta jalan cinta tidak terbatas.

 Sobat muda, syair di atas menyiratkan betapa indahnya cinta.  Setiap orang akan merasakan cinta, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Maka sering terjadi seseorang dengan gampang menabrak hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.  Bahkan semua pencinta suara syetan (nyanyian) pun mendendangkan cinta.

Maka, mari kita kenali cinta. Kita mulai dari definisi.  Ibnul Qayyim mengatakan, “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas.  Berarti definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9).

Beralih ke hakikat.  Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat.  So,  jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, “Tiga hal yang barang siapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR al-Bukhari: 16 dan Muslim: 43).

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rohimahumulloh  mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara.

  1. Membaca al Quran, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
  2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
  3. Terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
  4. Mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika nafsu bergejolak.
  5. Hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.
  6. Menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.
  7. Tunduknya hati di hadapan Allah.
  8. Berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).
  9. Duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
  10. Menjauhkan segala sebab-sebab penghalang cinta Allah . (Madarijus Salikin, 3/18).

Sobat, Rasulallah bersabda, ”Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”.  (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).  Islam juga melarang laki-laki untuk berduaan tanpa ada orang ketiga karena Islam tidak menginginkan terjadinya pelecehan ‘seksual’ terhadap wanita.

Islam melarang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram saling bersentuhan.  Rasulallah bersabda,”Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”(HR Thabrani dalam Mujamul Kabir).

Nah, jelaslah kenapa Islam melarang pacaran.  Bila seorang laki-laki serius ingin menikah proses saling mengenal (penjajagan) harus melalui orang tua atau wali atau pihak ketiga. Proses penjajagan atau taaruf tersebut tidak boleh dilakukan dengan melakukan berbagai kemaksiatan seperti dalam pacaran.

Baiklah, selamat berkenalan, melamar, dan bismillah…menikah! Indah bukan? Maka cinta tidak harus dengan pacaran. Betul apa benar?

Oleh: Abu Syauqi Agus Supriatna Al Atsari

Artikel : www.ibnutaimiyah.com

Ikuti update artikel di Fans Page Info Terkini Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah
Twitter PYIT_BOGOR, instagram ibnu_taimiyah_bogor,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *