hafal-quran

Menghafal Al Qur’an, Kenapa tidak ?

Allah berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

  1. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[Q.S. (15) Al Hijr : 9]

Tentang ayat di atas, pernakah kalian berfikir, “ bagaimana cara Allah untuk menjaga al-qur’an ?, padahal Rasulullah tidak bisa menulis ?” jangan berfikir seperti itu dulu. Allah menjaga Al-qur’an dengan para penghafal qur’an. Lah, kan Rasulullah tidak bisa menulis maupun membaca ?”. pernyataan itu benar, tapi perlu kita selidiki lebih dalam. Allah berfirman :

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

  1. dan Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.[Q.S. (29) Al Ankabut : 51]

Allah menurunkan Al-Qur’an dengan lisannnya yaitu Jibril, setelah itu Jibril membacakannya kepada Nabi Muhammad — , setelah itu Nabi Muhammad – membacakan kepada umatnya yang terdekat. Setelah itu menghafalnya.

Orang-orangnya beda toh ? kenapa bisa jadi satu Al-qur’an ?. dahulu Rasulullah – membacakannya dan juga memberitahu letak-letak ayatnya.

Pengumpulan Al-qur’an dimulai pada zaman Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu- ketika itu cetakan Al-Qur’an yang menjadi mushaf belum ada, yang ada hanya Al-Qur’an yang tertulis di kulit hewan, daun, batu, dan sebagainya.

Dan batu-batu, daun-daun itu tidak terkumpul pada satu tempat, melainkan berpencar-pencar. Di sisi lain banyak sahabat – yang menghafal sepotong-potong ayat. Karena Rasulullah – membaca ayatnya tidak langsung satu Al-Qur’an. Itulah bedanya Islam dengan agama lain.

Di zaman Umar bin Khattab banyak orang-orang yang keluar dari Islam. Setelah Rasulullah – meninggal banyak orang yang murtad (keluar dari Islam) mereka menganggap jika Rasulullah—meninggal syari’at Islam telah hilang. Di zaman Abu Bakar –, ia telah memerangi orang-orang yang murtad. Tetapi mereka justru membuat kelompok. Di zaman Umar bin Khattab –, kelompok mereka terkejut bahwa Amirul mukminin (Umar) telah menjadi khalifah (pemimpin). Umar berniat membrantas kelompok itu, akan tetapi mereka menentangnya.

Umar bin Khattab – kebingungan karena di perang itu telah terbunuh sekitar 70 penghafal Al Qur’an. Lalu beliau berfikir, beliau akan mengumpulkan Al Qur’an dari teks-teks, naskah-naskah, dan juga dari mulut ke mulut.

Di zaman Umar bin Khattab – telah terkumpul Al Qur’an. Namun, Al-Qur’an itu belum di kodifikasikan. Setelah Umar bin Khattab – meninggal, Utsman bin ‘Affan – diangkat menjadi khalifah. Beliau yang mengkodifikasikan Al-Qur’an di zamannya. Lalu di sebar ke negara-negara Islam, lalu mereka menghafalnya.

“Sebenarnya menghafal Al Qur’an susah atau gampang sih ?” sebenarnya gampang sih jika kita punya tekad yang kuat, maka Allah akan mudahkan kita dalam menghafal Al-Qur’an.

Kami juga telah mensurvai/meneliti, jika dipaksa menghafal Al Qur’an maka penghafap akan merasa drop. Contoh  : Seorang guru memaksa muridnya untuk menghafal dalam satu semester 10 juz al-Qur’an. Tentu penghafal merasa “10 juz satu semester, ngimpi kalee…” dan tentu kemungkinan berhasilnya hanya 15%.

Kami juga mencoba mewawancarai seorang guru tahfizh al-Qur’an yang bernama Farhan Muhammad Fadhilah yang sekarang sudah menghafal al-Qur’an 30 juz, berikut wawancaranya :

T :  “Kak sudah berapa lama kakak menghafal al-Qur’an ?”

J:    “Saya mulai menghafal al-Qur’an ketika kelas 1 MTs dan lebih giat lagi ketika MA. Karena MA posisi  halaqoh kakak ketika MA berada di halaqah 1 dengan pembimbing Ustadz Musni Halim Al-Hafidz. Dan alhamdulillah pada tahun 2015 kakak selesai 30 juz. Pada tingkat SMP kakak mendapat hafalan 10 juz, dan ketika MA mendapat sekitar 20 juz.

T : “Bagaimana cara kakak mengatur waktu antara belajar dengan menghafal  al-Qur’an ? ”

J : “Kalau kakak biasanya sore digunakan untuk menghafal  dan kalau kakak punya waktu nyuci biasanya tidak menghafal. Sebelum menghafal kalian harus mengingat poin-poin penting”.

  1. Tahu diri

Jadi kamu harus tahu kemampuan diri kamu. Semampu apa kalian menghafal, misalkan 1 hari 1 lembar.

( رحم الله رجلا يعرف قدر نفسه )

Disamping itu kamu harus tahu kesibukan diri sendiri. Di waktu mana kalian cocok menghafal. Dan sedikit saran untuk kalian, “ kalau mau cepet menghafal, hafalkan  Al Qur’an di waktu shubuh.” Karena di waktu shubuh pikiran kita masih kosong dan Al Qur’an mudah masuk ke otak pada waktu shubuh .

Dan harus pintar-pintar membagi waktu. Jika ada waktu luang, pakai waktu itu untuk menghafal atau memuraja’ah.

  1. Harus pede

Kalau mau menghafal,  tentukan target yang kamu sudah yakin dan mampu untuk mencapainya. Dan kamu juga harus pede sama jadwalnya, berusahalah untuk mencapai target tersebut.

  1. Sediakan waktu muraja’ah (mengulanghafalan) lebih banyak

Misalkan jikalau kalian menghafal ketika waktu shubuh, gunakanlah waktu muraja’ah lebih banyak dari pada waktu itu (menghafal ). Murajaah itu apa sih ? murajaah adalah mengulang hafalan yang telah dihafal. Bedanya muraja’ah dengan menghafal adalah“ menghafal adalah mengetahui ayat-ayat yang baru, adapun muraja’ah adalah mengulang ayat-ayat yang telah dihafal. Tentu kita sudah  familiar dengan ayat-ayat tersebut.”

T : “Kok hafalan saya mudah hilang? Bagaimana cara menjaganya ? “

J : “Hafal al-Qur’an juga harus mengetahui resikonya. Yaitu lupa ayat-ayat yang telah dihafal. Cara menjaganya adalah :

  1. Muraja’ah
  2. Punya niat untuk mengulang

Yang pastinya harus punya niat, bukan hanya untuk disetorkan saja. Percayalah, jika mengulang untuk disetorkan saja, hafalan itu akan hilang kembali.

  1. Banyak istigfar

Dan tentunya harus memperbanyak istigfar dan menjauhi maksiat.

T : “Saya lagi malas menghafal al-Qur’an. Bagaimana cara menghilangkan rasa mala situ ? “

J : “Malas itu wajar, dan malas biasanya akan datang di tengah-tengah semangat kita. Kalo malas menghafal pakailah cara berikut ini :

  1. Paksa baca al-Qur’an
  2. Banyak berdoa
  3. Baca kisah
  4. Olahraga .“

T : “Bagaimana cara kakak menghafal al-Qur’an ? ”

J :Kalau kakak biasanya membaca 2 kali atau 3 kali dan baru mulai menghafal. Dan tidak harus membaca 3 kali, tetapi sesuai kemampuan otak kita yang telah diberikan oleh-Nya. Bahkan ada yang sampai  20 kali. Gunanya membaca sebelum menghafal adalah membenarkan bacaan kita. “

Dengan penjelasan kakak Farhan, kalian sudah sedikit termotivasi, karena motivasi paling besar adalah dari diri kalian sendiri.  Mulailah dengan selangkah. Jika langkah itu baik, maka langkah seterusnya akan lebih baik.

Coba bayangkan di Suriah, kalian akan susah  jika kalian ingin menghafal al-Qur’an. Membuka al-Qur’an saja sudah langsung ada yang menodong kita dengan tembakan. Di sini seharusnyqa kita bersyukur dan lebih bersemangat dari orang yang berada di Suriah.

Biodata Narasumber

Nama Lengkap : Farhan Muhammad Fadhilah

Asal                     :  Tangerang

T                          :  Tangerang

T                          :  11 November 1998

L                          :   Selamat Alhamdulillah.

Status                 :  Khidmah
Umur                  :  17 Tahun

 

Penulis : Rafi Reihand Anshari (Kelas 9c MTs Ibnu Taimiyah) dan

Muhammad Nabil ‘Ayyasy (Kelas 8c MTs Ibnu Taimiyah)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *