tasyabuh

MELIHAT LEBIH DEKAT TASYABUH

Tasyabuh, tidak berlebihan bila dikatakan saat ini masih menjadi wabah bagi kaum muslimin terutama kalangan remaja Islam. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam permasalahan tasyabuh ini sehingga kita tidak salah dalam memahaminya. Berikut adalah poin-poin terkait tasyabuh tersebut.

  1. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa tasyabuh berbeda tingkat dan derajatnya.

           Pertama. Tasyabuh dengan orang kafir yang dapat menjadi sebuah perbuatan kufur atau syirik. Misal              menyerupai perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan agama mereka diiringi dengan niat dan kecintaan terhadap hal itu. Contoh ikut serta dalam perayaan hari raya mereka dan senang dalam merayakannya. Ini termasuk bentuk menganggap baik agama mereka yang batil. Ini termasuk salah satu pembatal keislaman. Ini menyerupai mereka dalam menyucikan seorang nabi dan orang shalih kemudian meminta hajat kepada mereka.

         Kedua. Tasyabuh yang dapat menjerumuskan seseorang dalam suatu yang  diharamkan. Misal dalam hal berpakaian menyerupai orang kafir yang menampakkan aurat berupa celana jean super ketat atau celana jean robek-robek. Apalagi jika robeknya di atas lutut.

         Ketiga. Tasyabuh yang masih dihukumi makruh seperti dalam permasalahan yang masih belum ada kejelasan hukum.

  1. Tolak ukur tasyabbuh adalah pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas yang diserupainya. Menyerupai orang-orang kafir, artinya seorang muslim melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas atau syiar mereka. Jika hal tersebut berhubungan dengan adat dan muamalah yang telah berlaku umum di kalangan kaum muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh (tidak tergolong menyerupai) sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut. Misal makan di atas meja makan yang sangat panjang, meskipun hal itu pada awalnya dilakukan oleh orang kafir akan tetapi jika hal itu sudah tersebar pada masyarakat dan tidak berkaitan dengan agama mereka dan telah dilakukan kaum kafir dan juga kaum muslimin, maka ini bukan termasuk dalam larangan tasyabuh. Tetapi meninggalkan hal tersebut juga lebih utama. Juga yang perlu diketahui bahwa ada syarat dibolehkan tasyabbuh dengan orang kafir yaitu;
  • Yang diserupai bukanlah dalam permasalahan yang menjadi syari’at mereka. Misal syari’at dahulu ketika menghormati seseorang, maka disyari’atkan sujud. Namun dalam Islam hal ini telah dilarang.
  • Syari’at menjelaskan bolehnya bersesuaian dalam perbuatan tersebut, namun khusus untuk amalan tersebut saja. Seperti misalnya dahulu Yahudi melaksanakan puasa Asyura, umat Islam pun melaksanakan puasa yang sama. Namun juga diselisihi dengan menambahkan puasa pada hari kesembilan dari bulan Muharram.
  • Menyerupai orang kafir di sini tidak sampai membuat kita menyelisihi ajaran Islam. Misalnya, jika orang kafir sekarang berjenggot. Itu bukan berarti umat Islam harus mencukur jenggot supaya berbeda dengan orang kafir karena memelihara jenggot sudah menjadi perintah bagi pria muslim.
  • Menyerupai orang kafir di sini bukan dalam perayaan mereka. Misalnya, orang kafir merayakan kelahiran Isa (dalam natal), makabukan berarti kita pun harus merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Jadi tidak boleh tasyabbuh dalam hal perayaan orang kafir.
  • Tasyabbuh hanya boleh dalam keadaan hajat yang dibutuhkan, tidak boleh lebih dari itu.
  1. Sebagian ulama berkata: Perkara menyerupai orang kafir bisa terjadi dalam perkara qalbiyyah, yaitu berupa aqidah, kehendak atau iradah, dan perkara kharijiyyah seperti perkataan dan perbuatan. Kadang bisa berupa ibadah bisa juga berupa adat kebiasaan. Contoh makan, pakaian, tempat tinggal, pernikahan, pertemuan, perpisahan, safar, bermukim, berkumpul, dan sebagainya. Hal ini karena antara fisik dan batin terdapat keterkaitan yang saling menyesuaikan.
  2. Tasyabuh (menyerupai) orang kafir berbeda dengan perkara menyelisihi mereka karena masalah tasyabuh hanya terlarang dalam perkara yang menjadi kekhususan mereka. Adapun menyelisihi orang kafir lebih luas cakupannya yaitu mencakup perkara yang merupakan kekhususan mereka juga perkara yang bukan kekhususan mereka. Islam telah mengajarkan seorang muslim untuk berusaha agar selalu menyelisihi orang kafir meskipun dalam hal-hal yang kecil agar dapat terbedakan mana yang muslim dan mana yang kafir.
  3. Dalam bahasa Arab kata tasyabbaha (menyerupai) dalam hadis, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum”, wazannya adalah tafa’ala yang mengandung pengertian muthawa’ah(menurut), takalluf (memaksa), tadarruj (bertahap) dalam melakukan suatu perbuatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa perbuatan menyerupai orang kafir pada awalnya dilakukan sedikit demi sedikit dan bisa jadi hal itu dilakukan secara terpaksa akan tetapi lama-kelamaan hal itu ia turuti dan menjadi kebiasaannya. Karena hal itulah hendaknya seorang muslim patut waspada terhadap perbuatan tasyabuh  sekecil apapun perbuatan itu karena itu dapat membuka pintu menuju ketundukan kepada mereka.

Inilah penjelasan ringkas tentang tasyabuh kepada orang kafir. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Wallahu ta’ala ‘alam.

 

Penulis : Muammar Bafadhal, Lc.

Artikel : www.ibnutaimiyah.com

Ikuti update artikel di Fans Page Info Terkini Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah
Twitter PYIT_BOGOR, instagram ibnu_taimiyah_bogor,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *