Kabut gunung melewati Pesantren

Kabut di PesantrenBiasanya memang kabut bisa dilihat di daerah yang dingin atau daerah yang tinggi, seperti kaki gunung, daerah puncak dan tempat-tempat tinggi lainnya. Jenis kabut gunung ini terbentuk ketika udara dingin berupa uap air bergerak menuju ke atas melewati lereng-lereng gunung yang semakin tinggi semakin dingin sehingga uap air mengembun dan tidak sanggup lagi menahan uap air, maka kemudian titik-titik embun ini membentuk kabut bergerak turun di sepanjang lereng dan kaki gunung.

Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah yang berlokasi dikaki gunung Salak inipun termasuk sebagai daerah lintasan kabut yang sesekali tak luput dari fenomena datangnya kabut seperti yang terjadi pada senin pagi sekitar jam 10.00 kemarin, kabut pekat turun melintas hampir bersamaan dengan saat berlangsungnya UN Madrasah Ibtidaiyah.  Jarak pandang ketika itu hanya ± 30 meter menjadi daya tarik bagi santri lain yang sedang istirahat untuk berhamburan ke tanah lapang menikmati suasana remang-remang ini.

Pada umumnya, kabut terbentuk ketika udara yang jenuh akan uap air didinginkan di bawah titik bekunya. Jika udara berada di atas daerah perindustrian, udara itu mungkin juga mengandung asap yang bercampur kabut membentuk kabut berasap, campuran yang mencekik dan pedas yang menyebabkan orang terbatuk. Di kota-kota besar, asap pembuangan mobil dan polutan lainnya mengandung hidrokarbon dan oksida-oksida nitrogen yang dirubah menjadi kabut berasap fotokimia oleh sinar matahari. Ozon dapat terbentuk di dalam kabut berasap ini menambah racun lainnya di dalam udara. Kabut berasap ini mengiritasikan mata dan merusak paru-paru. Seperti hujan asam, kabut berasap dapat dicegah dengan mengehentikan pencemaran atmosfer.

Kabut juga dapat terbentuk dari uap air yang berasal dari tanah yang lembab, tanaman-tanaman, sungai, danau, dan lautan. Uap air ini berkembang dan menjadi dingin ketika naik ke udara. Udara dapat menahan uap air hanya dalam jumlah tertentu pada suhu tertentu. Udara pada suhu 30º C dapat mengandung uap air sebangyak 30 gr uap air per m3, maka udara itu mengandung jumlah maksimum uap air yang dapat ditahannya. Volume yang sama pada suhu 20º C udara hanya dapat menahan 17 gr uap air. Sebanyak itulah yang dapat ditahannya pada suhu tersebut. Nah, udara yang mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.

Alhamdulillah kami di Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah tidak berada di daerah perindustrian sehingga yang kami nikmati adalah nuansa kabut gunung bukan kabut akibat polusi. Mudah-mudahan alam disekitar kita tetap terjaga sehingga anak-anak kami di pesantrren dapat tumbuh dengan sehat, mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang berkah.

disarikan dari: e-smartschooldotcodotid

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *