takut

Jangan Main-Main dengan Rasa Takut!

“Iiih, takut. Aku nggak mau ke atas ah. Mayatnya kan ditemukan di sana!”

“Aku nggak berani masuk hammam sendirian, abis teman-teman pada cerita ada ember bergerak sendiri!”

Wah, wah, waah.., sikap-sikap seperti itu tuh yang harus kita singkirkan. Takut melewati suatu tempat yang dianggap angker atau takut ke kamar mandi sendirian, itu namanya takut yang tidak syari alias takut yang tidak diperbolehkan.

Kok bisa? Bisa dunk.  Kan kata para ulama juga takut itu terbagi empat; takut yang diwajibkan, takut yang menyeret kepada kesyirikan, takut yang diharamkan, dan takut yang boleh-boleh saja karena bersifat naluriah seperti takut kepada binatang.

Nah, Sobat, jadi jangan main-main dengan rasa takut ya.  Jangan sampai meletakkan rasa takut pada tempat yang salah. Bahkan, Sobat, para ulama memasukkan pembahasan macam-macam rasa takut ke dalam bab akidah.

Yuk kita simak penjelasan empat jenis takut di atas secara singkat.

Takut bernilai ibadah

Ini dia, takut yang justru kudu kita miliki, bahkan kita harus berusaha menghadirkan rasa takut ini manakala belum ada dalam diri kita.  Apaan sih? Dengerin neh, takut kepada Allah azza wajalla.  Iya lah. Seorang hamba wajib takut kepada Sang Pencipta. Seorang hamba harus takut akan murka, azab, dan siksa Allah subhanahu wataala.  Seorang hamba diharapkan terdorong melaksanakan ketaatan dan sebaliknya menjauhi kemaksiatan dengan memiliki rasa takut jenis ini.  Satu lagi Sobat, penting neh, kalau perlu dicatet, takut jenis ini tidak boleh diobral sembarang.  Rasa takut jenis ini hanya diperuntukkan kepada Allah azza wajalla.  Jika rasa takut jenis ini ditujukan kepada sesama makhluk, fatal Sobat.  Bisa-bisa pelakunya terseret kesyirikan. Dalilnya? Mau…? Allah taala berfirman,”

sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku…….“. (Al-Maidah: 3)

Takut bernilai kesyirikan 

Ini jenis takut yang menjadi lawan jenis takut bernilai ibadah.  Tadi kan di atas udah disungging, eh disinggung, kalau jenis takut bernilai ibadah yang seharusnya ditujukan kepada Allah taala malah diselewengkan kepada selain-Nya, misal takut kepada kuburan atau takut kepada batu besar, maka konsekuensinya adalah orang tersebut (yang takut kepada kuburan atau batu besar) terancam masuk ke dalam kesyirikan. Kita berlindung kepada Allah dari perkara tersebut.  Simak baik-baik firman Allah berikut,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah.  Oleh karena itu mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”. (At Taubah: 18)

So, Sobat, hati-hati dengan hati kita, jangan sampai merasa takut kepada batu besar, pohon besar, keris pusaka, atau kompleks pemakaman tertentu, dalam artian, meyakini benda-benda tersebut mampu menimpakan kecelakaan kepada manusia. Itu keyakinan salah kawan, sangat salah alias big mistake kata wong londo.  Yang memiliki otoritas memberikan kebahagiaan dan kecelakaan hanyalah Allah taala.

Takut yang bersifat haram

Kalo ini rasa takut yang menyebabkan seseorang meninggalkan yang wajib.  Bisa juga seseorang terperangkap ke dalam takut yang haram ini ketika ia melakukan kemaksiatan atau sesuatu yang haram karena takut kepada manusia.

Takut yang diperbolehkan

Jenis takut keempat ini merupakan takut yang naluriah alias manusiawi dimiliki setiap makhluk.  Takut ini sifatnya diperbolehkan dalam Islam.  Mau contoh? Seseorang yang takut kepada hewan buas yang akan menerkamnya, takut kepada penjahat yang akan menodongnya, atau seseorang yang takut jatuh ketika berada di gedung tinggi.  Mau dalinya? Allah taala berfirman,”Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu'”. (Al Qashas: 21)

 

Oleh : Abu Unaisah Tata Tambi

Maraji:

Al Quran Al Karim dan terjemah

www.rahmatap.blogspot.com

 

Artikel : www.ibnutaimiyah.com

Ikuti update artikel di Fans Page Info Terkini Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah
Twitter PYIT_BOGOR, instagram ibnu_taimiyah_bogor,

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *