hamba-cerdas

Jadilah Hamba yang Cerdas

Tamu yang Tidak Diundang

Setiap kita pasti akan mati, siapapun kita, apapun jabatan kita. Tidak ada seorang manusia di muka bumi ini yang mengingkarinya. Bahkan orang yang tidak mengimani adanya hari berbangkit pun mempercayainya. Allah taala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.”(Q.S.Al-Baqarah:5)

Kematian, kata yang begitu pendek nan ringkas. Kata yang tidak disukai  mendengarnya, karena ia akan memutus segala kenikmatan dunia. Tetapi justru Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kita memperbanyak mengingatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، يَعْنِي الموْتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus semua kelezatan” yaitu kematian.” (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Kematian tidak mengenal usia, penyakit tertentu, dan juga waktu tertentu. Tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi kapan dia akan kedatangan tamu ini. Akhi, ketahuilah bahwa kematian itu selalu mengintai kita setiap saat. Ia datang dengan tiba-tiba. Anda merasa masih muda? Siapa yang menjamin bahwa Anda akan berumur panjang  sehingga bisa menikmati masa-masa tua? Tinggalkan slogan “mumpung masih muda hidup dipuas-puasin aja dech” atau “tobat itu entar kalo dah tua, muda cocoknya buat foya-foya”.

Bagi orang yang masih bergelimpangan dengan maksiat, maka cukuplah kematian sebagai nasihat. Rasulullah bersabda,

كَفَى بِالموْتِ وَاعِظًا

“Cukuplah kematian sebagai nasihat.” (H.R.Ahmad)

Karena kematian akan merobohkan segala bentuk keangkuhan, membisikkan ke relung hatinya bahwa Anda akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan.

Buah Mengingat Kematian

Seorang ulama yang bernama Al-Lafaf menuturkan sebuah ungkapan yang penuh makna. Ia berkata,“Barangsiapa banyak mengingat kematian maka dia akan dimuliakan dengan tiga hal; segera bertaubat, hati yang qana’ah, dan bersemangat dalam beribadah. Dan sebaliknya, barangsiapa melupakan kematian maka akan dihukum tiga hal pula; menunda-nunda taubat, tidak ridha dengan yang ada, dan bermalas-malasan dalam beribadah.”

Berikut sedikit uraian tiga buah mutiara yang bisa kita petik dari mengingat kematian.

Pertama, segera bertaubat.

Seandainya pelaku maksiat ingat kematian, akankah ia akan meneruskan kemaksiatannya? Bagaimana jika ketika ia minum khamr ajal menjemputnya? Bagaimana ketika ia mencuri itu menjadi penutup catatan amal terakhir kehidupannya? Bagaimana ketika ia di bioskop itu menjadi terminal terakhir hidupnya? Tentu ia akan mengurungkan kesemuanya itu dan segera bertaubat kepada Zat penerima taubat.

Kedua, hati yang qana’ah.

Akankah Anda akan terus memburu dunia seandainya kematian di depan pelupuk mata? Maka tentu Anda akan merasa ridha dan puas dengan apa yang ada di hadapan. Kesusahan hidup yang Anda alami tidak akan selamanya. Kesenangan hidup dan kemewahan yang dinikmatipun juga tidak kekal. Semuanya akan berakhir dengan kematian. Hanya amal kebajikan dan harta yang diinfakkan di jalan-Nya saja yang akan menemani kehidupan selanjutnya.

Ketiga, bersemangat dalam beribadah.

Masih bermalas-malasan dalam menunaikan ibadah? Bagaimana jika hari itu adalah hari terakhir Anda? Sudah banyakkah bekal akhirat yang Anda kumpulkan sehingga Anda terus bermalas-malasan? Bersihkah Anda dari segala bentuk dosa sehingga yakin ketika amal ditimbang pahala kebaikan Anda menjadi lebih berat? Tentu kita akan bersemangat memperbanyak amal ibadah yang belum kita tunaikan.

Jadilah Hamba yang Cerdas

Menurut Anda, siapakah orang cerdas itu? Pasti jawabannya bermacam-macam. Ada yang bilang kalau nilai matematikanya 100, nilai IPA 100, Bahasa Inggris 100, atau IQ-nya di atas 130. Yang lain menjawab, orang itu cerdas kalau dia banyak menyabet medali di berbagai kejuaraan. Jawaban tadi tidak sepenuhnya salah. Namun Akhi, ternyata kriteria orang cerdas menurut Rasulullah jauh dari yang Anda bayangkan. Kata beliau, orang cerdas itu adalah orang yang banyak mengingat kematian dan beramal untuk setelahnya. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya,

أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ.

“Siapakah mukmin yang paling cerdas? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian, dan orang yang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (H.R.Ibnu Majah)

Jadi orang cerdas adalah orang yang semua orientasi hidupnya jauh ke depan menembus dinding dunia, menatap kenikmatan surgawi di negeri akhirat di pelupuk mata. Dia tahu dan yakin seyakin-yakinnya bahwa di akhirat kelak hanya ada dua tempat persinggahan; surga dan neraka.

Menutup pembahasan di atas, saya nukilkan syair Abul ‘Atahiyah bicara tentang kematian. Kata-kata yang begitu indah nan menyentuh. Berikut senandungnya,

يــَا عَجَبًــا لِلنَّــاسِ لَـو فَكَّـرُوا   ***   وَحَاسَـــبُوا أَنْفُسَـــهُمْ أَبْصَــرُوا 
وَعَــبَرُوا الدُّنْيَــا إِلَــى غَيْرِهَــا    ***   فَإِنَّمَـــا الدُّنْيَـــا لَهُـمْ مَعْــبَرُ 
لَا فَخْــرَ إِلَّا فَخْــرُ أَهْــلِ التُّقَـى *** غَـــدًا إِذَا ضَمَّهُـــمُ المحْشَـــرُ 
لَيَعْلَمَـــنَّ النَّـــاسُ أَنَّ التُّقَـــى    ***  وَالْــبِرَّ كَانَــا خَــيْرَ مَـا يُدَّخَـرُ 
عَجِــبْتُ لِلْإِنْسَــانِ فِــيْ فَخْــرِهِ ***  وَهُــوَ غَــدًا فِــي قَــبْرِهِ يُقْـبَرُ

Manusia itu memang mengherankan, seandainya mereka mau berpikir dan mengintrospeksi diri, tentu mereka akan tahu.

Mereka melewati dunia menuju dunia lain. Sesungguhnya dunia bagi mereka hanyalah tempat penyeberangan saja.

Tidak ada kebanggaan kecuali kebanggaan bagi orang yang bertakwa kelak ketika mereka dikumpulkan di padang Mahsyar.

Manusia kelak akan tahu bahwa ketakwaan dan kebaikan, keduanya adalah sebaik-baik simpanan.

Saya heran kepada manusia bagaimana mereka berbangga, padahal kelak dia akan dikuburkan di dalam kuburan.

Referensi : Kitab At-Tadzkirah Bi Ahwalil Mauta Wa Umuril Akhirah, Imam Qurthubi.

Penulis : Abu Husna ad-Damaky

 

Artikel : www.ibnutaimiyah.com

Ikuti update artikel di Fans Page Info Terkini Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah
Twitter PYIT_BOGOR, instagram ibnu_taimiyah_bogor,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *