Fiqih Musibah

Digital image

PengertianMusibah
Kebanyakan manusia memahami musibah hanya sebatas perkara-perkara dan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan, menyusahkan, menyulitkan dan menyedihkan, menghancur luluh lantakkan segala yang ada diatas bumi. Pemaknaan seperti ini tidak seluruhnya salah, karena memang istilah musibah tersebut telah mengambil konotasi negative diatas dalam porsi yang cukup besar, pasalnya amat sedikit manusia yang menyadari bahwa kesenangan, kegembiraan, harta kekayaan hingga kesehatan dan ilmu pengetahuan pun adalah musibah (ujian) atas dirinya.

Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (1/534) bahwa setiap yang turun dari atas ke bawah dan musibah adalah setiap yang terjadi sepanjang masa. Dalam kitab Tasliyah Ahli Mashaaib(1/13) disebutkan bahwa hakikat musibah adalah hal-hal yang tidak disukai. AlQurthuby mengatakan segala sesuatu yang menyakitkan menimpa orang beriman. Diriwayatkan dari Ikrimah secara mursal: “Pada suatu malam lampu tempel di rumah Rasulullah padam, lantas beliau mengatakan: “Inna lillahi wa inna ilaihiraji’un,” kemudian dikatakan: Apakah telah terjadi satu musibah yang Rasulallah? Beliau menjawab: “Ya, segala sesuatu yang menyusahkan adalah musibah.”

Kebaikan-Keburukan sebagai fitnah

Fitnah adalah cobaan-ujian. Asal katanya berasal dari fatantual fidhdhah wa al dzahab artinya aku membakarnya (meleburkannya) kedalam api untuk memisahkan kadar elemen yang baik dan buruk (Lisanul Arab (13/317). Allah Ta’ala menjadikan kebaikan dan keburukan sebagai fitnah (ujian) untuk mengetahui siapa yang baik amalnya dan yang tidak. Firman-Nya:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُالْمَوْتِوَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs. Al Anbiya’: 35)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَوَالْحَيَاةَلِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs.Al Mulk: 2)

Banyak manusia yang ketika diuji dengan kesusahan ia bersabar, namun sedikit manusia yang ketika diuji dengan kesenangan ia bersyukur kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Ta’ala dari kalangan orang-orang beriman. Contohnya Fir’aun yang kufur ketika diuji dengan kekuasaan, Qorun yang kufur ketika diuji dengan kekayaan, Bushaisha’ yang kufur ketika diuji dengan ilmu al Kitab, dan masih banyak contoh ujian-ujian yang menyangkut kekuasaan, pangkat dan jabatan, kekayaan, emas, perak, tempat tinggal, kendaraan, sawah ladang, popularitas, pengaruh dan pengikut, kesenangan duniawi, kesehatan, kecantikan, isteri dan anak-anak, dan lain sebagainya. Sebagai seorang mukmin sikap yang sebenarnya adalah:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِإِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُسَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُوَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًالَهُ  . رواهمسلم عن صهيب  7692

“Amatmengagumkan urusanorang yang beriman, semua keadaannya adalah baik. Hal itutidak terjadi kecualipada diri si mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenanganbersyukur dan itu baikbaginya, namun jika ia tertimpa kesusahan bersabar danitupun baik baginya.” HR.Muslimdari Shuhaib ra (7692)

Oleh karenanya AllahTa’alaberfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْلَئِنشَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan(ingatlah juga),tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamubersyukur, pasti Kamiakan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamumengingkari (nikmat-Ku), makasesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs.Ibrahim: 7)

قَالَ هَذَا مِن فَضْلِرَبِّيلِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِوَمَنكَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Ia(Nabi Sulaiman) punberkata: “Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba akuapakah aku bersyukuratau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yangbersyukur makasesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri danbarangsiapa yangingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi MahaMulia”. (Qs. An Naml:40)

Semua dari Allah Ta’ala

Kitameyakini bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan segalasesuatu dalam LauhMahfuzh semenjak limapuluh ribu tahun lamanya sebelum Allahmenciptakanlangit dan bumi. Maka apapun yang terjadi didalamkekuasaan-kerajaan-Nya dilangit dan di bumi tidak terlepas dari kehendak-NyaTabaraka Wa Ta’ala.

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَالْخَلاَئِقِقَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ- قَالَ -وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ .رواه مسلم عن عبد الله بنعمرو بن العاص 6919

“Allah telah menetapkantakdir-takdir semua makhluk sebelum Diamenciptakan langit dan bumi semenjaklimapuluh ribu tahun -(perawi) berkata-:dan Arsy-Nya berada diats samudera.”HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin al‘Ash ra (6919)

Allah Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍإِلَّابِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ

“Tidakada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; danbarangsiapa yangberiman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadahatinya. Dan AllahMaha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At Thaghabun:11)

Nilai dan Hikmah dibalikMusibah

Jika kitamentadabburiayat-ayat kauniyah Allah Tabaraka wa Ta’ala yang berbicaratentang bagaimanaAllah memainkan peran-Nya dalam mengatur alam semesta ini,maka pada semua yangterjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi,terdapat hikmah yang sangatagung lagi mulia, yang bermuara pada satu hal yaknikebaikan si hamba dunia danakhirat, siapa yang rela dan pasrah menerimabaginya keridho’an Allah dan siapayang marah serta berburuk sangka baginyamurka dan siksa Allah.

Rasulullah Shalallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَعِظَمِالْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَفَلَهُالرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Besarnya pahala bersamadengan besarnya ujian, dansesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Diaakan menguji mereka, makasiapa rela ikhlas menerimanya ia akan mendapatkankeridho’an-Nya dan siapa yangmarah dengan ujian itu maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.”(HR. atTirmidzi 2576, Ibnu Majah 4167)

Hadits tersebutmenunjukkanbahwa ada musibah yang nilainya adalah ujian bagi orang-orangyang beriman agarAllah membuktikan kecintaan-Nya kepadanya, disampingitu Allah juga hendakmenghapus dosa-dosanyadan hendak menaikkan derajatnya ketempat yang palingtinggi disisi-Nya.

RasulullahShalallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَمِنْشَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّعَنْهُبِهَا خَطِيئَةً.رواه مسلم عن عائشة 6727

“Tidaklah seorang mukmintertusuk oleh duri atau yang lebih dariitu kecuali dengan itu Allahmeninggikannya satu derajat atau menghapus darinyasatu kesalahan.” HR.Muslimdari ‘Aisyah ra (6727)

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَمِنْوَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّكُفِّرَبِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ  . رواه مسلم عن أبيسعيدالخدري و أبي هريرة 6733

“Tidaklah seorang mukmin terkena satupenyakit, ataumenderita kepayahan, atau kelelahan, atau kesedihan hingga kegundahanyangmenggelisahkannya kecuali dengannya Allah menghapuskankesalahan-kesalahannya.”HR.Muslim dari Abu Sa’id al Khudry ra dan Abu Huairahra (6733)

Ada pula musibah sebagaibentuk peringatan Allah kepada ummat manusia, untuk kembalikepada-Nya, meninggalkansegala bentuk maksiat.

وَمَا نُرِيهِم مِّنْآيَةٍإِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا وَأَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْيَرْجِعُونَ

“Dantidaklah Kami perlihatkan kepada merekasesuatu mukjizat kecuali mukjizat itulebih besar dari mukjizat-mukjizat yangsebelumnya. Dan Kami timpakan kepadamereka azab supaya mereka kembali (ke jalanyang benar).” (Qs. Az Zukhruf :48)

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَامَاحَوْلَكُم مِّنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dansesungguhnya Kamitelah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telahmendatangkantanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali(bertaubat).”(Qs.Al Ahqof: 27)

Dan beberapa firman Allahlainnya berikutini:

وَحَرَامٌ عَلَى قَرْيَةٍأَهْلَكْنَاهَاأَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

“Sungguh tidak mungkinatas(penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidakakankembali (kepada Kami).” (Qs. Al Anbiya’ : 95)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِيالْبَرِّوَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِيعَمِلُوالَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan didaratdan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allahmerasakankepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar merekakembali(ke jalan yang benar).” (Qs. Ar Ruum :41)

وَلَنُذِيقَنَّهُمْمِنَالْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Sesungguhnya Kamimerasakankepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yanglebihbesar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).”(Qs. As Sajdah :21)

Dan yang kitatakuti adalahketika musibah itu sebagai azab Allah, dan ia tidakdatang kecuali kepada kaumyang durhaka lagi melampaui batas.

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْبَأْسُنَابَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ.  أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنيَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ.  أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَيَأْمَنُمَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ .

“Maka apakah penduduknegeri-negeriitu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka dimalam hari diwaktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itumerasa amandari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mataharisepenggalahan naikketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa amandari azab Allah(yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allahkecualiorang-orang yang merugi.” (Qs. Al A’rfaf: 97-99)

SemogaAllah mengampuni dosa-dosadan kesalahan kita, dan semoga Allah mengangkatmusibah-musibah yang menimpakita, dan kita doakan semoga kaum muslimin yangtertimpa musibah-musibah itudiberi kesabaran dan diberikanbalalasan yang berlipat ganda disisi-Nya.

Hubungan Kausalitas(sebab-musabab)

Denganmelihat ayat-ayat alQuranul Karim diatas, maka apapun yang terjadi di alamsemesta ini tidakterlepas dari ketetapan Allah secara kauniyah, akantetapi yang dapat kitaperhatikan untuk diambil pelajarannya adalah bahwamusibah itu terjadi memangsemata-mata kehendak-Nya, namun adapula musibah yangterjadi lantaran terkaitsecara kausalitas (hubungan sebab musabab) olehkarenanya Allah berfirman:

وَمَاأَصَابَكُم مِّنمُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Danapa saja musibah yangmenimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatantanganmu sendiri, dan Allahmemaafkan sebagian besar (darikesalahan-kesalahanmu).” (Qs. Asy Syuro’: 30)

ظَهَرَالْفَسَادُ فِيالْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمبَعْضَ الَّذِيعَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telahnampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tanganmanusi, supaya Allahmerasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatanmereka, agar merekakembali (ke jalan yang benar).” (Qs.Ar Ruum: 41)

Contohyang kedua iniadalah banjir, longsor, kebakaran, kecelakaan dan sebagainyayang sangatdipengaruhi oleh factor human error (kesalahan manusia).

Yang dapat mengangkat azabdan siksa

HanyaAllah Tabaraka wa Ta’ala sajadapat mengangkat dan menghilangkan musibah-musibah yang menimpa kita saat ini,tidak ada Dzat selain-Nya yang kuasa untuk itu, maka sudah menjadi kewajibankita bersama untuk kembali rujuk,bermunajat/ memohon kepada Rabb alam semestaini untuk mengganti segala bentuk musibah ini dengan nikmat dan karunia-Nya.Sudah barang tentu disanaterdapat konsekwensinya yang secara logis dapat kitafahami, yakni kita wajib mentauhidkan-Nya, beribadah kepada-Nya, menegakkansyariat-Nya, dan menjauhisegala bentuk kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan,kezhaliman, kefasikan, dan semua yang dapat mendatangkan murka-Nya danazab-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللّهُلِيُعَذِّبَهُمْوَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kalitidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dantidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”(Qs.Al Anfal: 33)

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَوَعَمِلَعَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍوَكَانَاللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“kecuali orang-orangyangbertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejelekan(keburukan)mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah mahaPengampun lagi MahaPenyayang.” (Qs. Al Furqon: 70)

Daridua ayat al Qurandiatas kita simpulkan bahwa Allah akan mengangkat danmenghilangkan azab-Nyadengan beberapa sebab:

1.   KeberadaanNabi Muhammad Shalallahu‘alaihi wa sallam berada ditengah-tengah   ummatmanusia. Sebab itu sudah tidak ada.

2.    Istighfar

3.    Taubat.

4.    Beriman.

5.   Beramal Shaleh.

Wallahu A’la wa A’lam bisShowab.

Jakarta, 1 Dzul Hijjah 1431H

Haryanto Abdul Hadi, Lc. MA