tasyabbuh

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka

Sesungguhnya masalah  tasyabbuh terhadap orang-orang kafir ini merupakan topik yang sangat penting. Nabi   Sallallahu Alaihi Wasallam telah menunaikan amanahnya. Beliau telah menyampaikan risalah dan telah menasihatinya. Beliau juga telah memperingatkan dalam beberapa hadits yang berkenaan dengan  tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, baik secara global maupun secara detil. Masalah ini sudah menjangkiti umat muslim diseluruh dunia yang patut kita waspadai bersama. Tentunya agar mereka terhindar jangan sampai terjatuh ke dalam lubang perangkap  tasyabbuh terhadap orang-orang kafir ini.

Tasyabbuh yang dilarang dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Termasuk dalam  tasyabbuh yaitu meniru terhadap orang-orang yang tidak shalih, walaupun mereka itu dari kalangan kaum muslimin, seperti orang-orang fasik, orang-orang awam dan jahil, atau orang-orang yang tidak sempurna  keislamannya.

Rasulullah   memberitakan kepada kita dengan kabar yang pasti benar dan tidak mungkin keliru, bahwa sebagian umat ini pasti akan mengikuti jejak orang-orang terdahulu dari umat lain. Hadits mengenai hal ini merupakan hadits shahih, “Dan pasti kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian setapak demi setapak dan sejengkal demi sejengkal, hingga kalaupun mereka masuk ke lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya.” Kami (para sahabat, ed.) bertanya: “Ya Rasulullah, jejak orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (Diriwayatkan dalam Shahihain; Fathul Bari juz XIII hal. 300 dan Muslim hadits no. 2669.)

Larangan bertasyabbuh secara umum ada empat perkara, yaitu:

  1. Masalah Aqidah.

Bertasyabbuh dalam perkara ini hukumnya kufur dan syirik. Seperti mensucikan orang-orang shalih,  sharf yakni salah satu cara beribadah kepada selain Allah. Kemudian seperti mendakwahkan “Anak” atau “Bapak” kepada Allah terhadap salah satu ciptaan-Nya. Hal itu sebagaimana dakwahan orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa Al-Masih anak Allah, atau seperti dakwahan orang-orang Yahudi bahwa Uzair anak Allah.

  1. Yang Berhubungan dengan Hari Besar atau Perayaan-perayaan

Hari-hari besar (perayaan-perayaan) walau sebagian besar termasuk dalam perkara ibadah, tetapi kadang-kadang ada beberapa bagian yang termasuk adat-istiadat. Kecuali yang dikhususkan dalam syari’at dengan dalil-dalil yang banyak, dan mengingat pentingnya, maka dikhususkan pelarangannya dengan alasan ada unsur tasyabbuh di dalamnya.

  1. Masalah Ibadah

Khusus bagi kaum muslimin, bahwa dalam satu tahun hanya ada dua hari raya saja. Adapaun hari-hari besar lainnya, seperti Maulid Nabi, hari-hari besar, hari-hari besar nasional, perayaan-perayaan rutin yang mengambil satu hari dalam setahun, satu kali dalam sebulan, dua hari sekali atau seminggu penuh yang selalu diperingati masyarakat, semua itu termasuk  tasyabbuh sebagaimana yang dimaksud dalam nash-nash. Seperti yang termaktub dalam syari’at bahwa Nabi   secara terperinci melarang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir dalam perkara peribadatan. Di antaranya, seperti mengakhirkan shalat maghrib, meninggalkan makan sahur, mengakhirkan berbuka puasa.

  1. Masalah Tradisi, Akhlak, Tingkah Laku

Seperti pakaian, misalnya. Ini dinamakan sebagai petunjuk lahiriah, dan petunjuk lahir tersebut diamati dari rupa, bentuk, pola tingkah laku, dan akhlak. Telah dinyatakan pula secara nyata dan jelas tentang keharaman bertasyabbuh dalam beberapa perkara, baik secara keseluruhan maupun secara sebagian-sebagian; Seperti larangan mencukur jenggot, memakai bejana atau piring dari emas, memakai pakaian yang merupakan syi’arnya orang-orang kafir, bertabarruj (menampakkan perhiasan tubuh pada lelaki yang bukan  mahram),  ikhtilath (bergaul campur antar lawan jenis yang bukan mahram), laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki, dan segala bentuk tradisi kafir lainnya.

Demikianlah dan kami memohon kepada Allah semoga kita tetap dihidupkan dalam keadaan muslim dan dimatikan-Nya dalam keislaman. Kemudian kita dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Semoga kita diberi petunjuk ke jalan yang lurus serta menjauhkan kita dari jalan yang dimurkai-Nya dan dari jalan yang sesat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam , kepada keluarga beliau, dan seluruh sahabat-sahabat beliau.

 

Penulis : Abu Battar

(Dikutif dari tulisan Dr.Nashir Bin Abdul Karim Al-Aql Tanggal 11 – 8 – 1411 hijriyah)

Artikel : www.ibnutaimiyah.com

Ikuti update artikel di Fans Page Info Terkini Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah
Twitter PYIT_BOGOR, instagram ibnu_taimiyah_bogor,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *